Jumat, 08 Februari 2013

makalah durhaka kepada orangtua

Add caption

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban mutlak dan mempunyai kedudukan amal yang lebih tinggi dibandingkan dengan amal lainnya berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya.
Perintah berbakti kepada orang tua dalam al-Quran selalu disandingkan dengan perintah untuk taat kepada Allah, mengingat betapa keutamaan dan kedudukan mereka dihadapan anak-anaknya, dan ditekankannya perintah tersebut agar diperhatikan oleh manusia. Kedudukan mereka yang begitu agung dan besarnya jasa mereka demi anak-anak, menjadikan Allah membuat suatu ketentuan mutlak bahwa anak yang tidak berbakti atau durhaka kepada mereka, akan dijatuhi hukuman dosa paling besar setelah syirik. Dan hukuman ini tidak akan ditangguhkan menunggu saatnya hari kiamat, bahkan ketika di dunia ini hukuman tersebut bias diberlakukan.
Perbuatan berbakti atau durhaka akan membuahkan hasil masing-masing, yang sangat berdampak bagi pelakunya dalam kehidupannya sehari-hari, bahkan sampai di akhirat kelak dampak perbuatan tersebut akandirasakan oleh pelakunya. Anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya akan merasakan berbagai keuntungan, kebaikan dan keselamatan selama di dunia ini, sehingga dikatakan bahwa keberhasilan hidup seseorang tergantung bagaimana bentuk baktinya kepada orang tua mereka, sebaliknya, kehancuran hidupnya mencerminkan bagaimana perlakuan buruknya terhadap orang tua, sehingga berbagai kesulitan, ketidaktenangan, bahkan kesengsaraan selalumewarnai kehidupannya karena tindakan yang selalu menentang, menyakiti, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan
kepada orang tuanya.


B. Rumusan Masalah
1. Apa itu durhaka dan apa macam-macamnya ?
2. Apa saja hadits dan al-Quran yang mencakup tentang durhaka
kepada kedua orang tua?
3. Apa sajakah hukuman bagi orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya?
4. Apa yang menyebabkan seorang anak durhaka kepada kedua orang
Tuanya dan bagaimana cara menanggulanginya ?
5. Apa peristiwa nyata yang berkaitan dengan anak yang durhaka kepada orang tua ?

C. Tujuan pembahasan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian durhaka dan macam-macamnya.
2. Mahasiswa dapat mengetahui al-Quran dan hadits tentang durhaka
3. Mahasiswa dapat mengetahui hukuman bagi orang yang durhaka kepada orang tuanya.
4. Mahasiswa tahu sebab-sebab anak durhaka dan cara mengatasinya.
5. Mahasiswa tahu peristiwa kisahnyata yang berkaitan dengan anak yang durhaka kepada orang tua



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Durhaka
Bakti (dalam bahasa arab disebut birrun) adalah kata yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Berbakti kepada kedua orang adalah berbuat baik kepada mereka memenuhi hak-hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan hal-hal yang wajib atau maksiat.
Adapun lawan kata bakti adalah durhaka. Durhaka kepada orang tua
adalah berbuat buruk kepada mereka dan menyia-nyiakan hak mereka. Secara bahasa, kata al -‘uquuq (durhaka) berasal dari kata al-‘aqqu yang berarti al-qath’u (memutus, merobek, memotong, membelah). Adapun menurut syara’ adalah setiap perbuatan atau ucapan anak yang menyakiti kedua orang tuanya. Diantara bentuk durhaka adalah :
  1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
  2. Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
  3. Membentak atau menghardik orang tua.
  4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
  5. Merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘kolot’ dan lain-lain.
  6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
  7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
  8. Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
  9. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

B. Hadits dan Al-Quran yang mencakup tentang durhaka kepada kedua orang tua
Durhaka kepada kedua orang tua adalah haram dan termasuk dosa besar. Allah Swt, berfirman:
وقضى ربك الاّ تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحساناً إما يبلغنّ عندك الكبر أحدهما او كلاهم فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريماً(الإسراء:23)
Artinya:dan Tuhanmu menghendaki supaya kamu tidak menyembah keculai kepada-Nya dan berbakti kepada kedua orang tua, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya, sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaannmu, maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia.( QS. Al-Isro [17]: 23)
Diriwayatkan dari Abdurohman bin Abi Bakkah, dari ayahnya, dia
berkata: “Rasulullah saw bersabda: Artinya:“Maukah kalian (jika) aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Kami (para sahabat ) menjawab: ‘Mau, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: ‘Menyekutukan (sesuatu) dengan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau bersandar, lalu beliau duduk, kemudian bersabda: “Ketahuilah (juga) sumpah palsu dan kesaksian palsu. “Ketahuilah (juga) sumpah palsu dan kesaksian palsu.” Beliau terus mengulang-ngulang perkataan itu, sehingga aku berkata: “Beliau tidak mau diam.” (Shahih Bukhori, juz 187, hlm. 372, Hadits No. 5519)
C. hukuman bagi orang yang durhaka kepada orang tuanya.
Umat Islam sepakat bahwa durhaka kepada kedua orang tua adalah suatu hal yang diharamkan dan termasuk dosa besar yang sudah disepakati
keharamannya. Barang siapa yang durhaka kepada orang tuanya, maka Allah akan menghukumnya dengan hukuman yang berat, baik di dunia maupun di akhirat.
Adapun hukuman di dunia, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya akan berada dalam kemurkaan Allah. Hal ini sebagaimana yang dikabarkan oleh sang pembawa rahmat, Muhammad saw. Diriwayatkan dari ‘Abdulloh bin Amr’ bahwa dia berkata: “Rasulullah
saw bersabda:
Artinya: “Ridho Allah itu terletak pada Ridho orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka kedua orang tua.” (Syu’ab al-Iman, Baihaqi, Juz
16, hlm. 338, Hadits no. 7584)
Barang siapa yang dimurkai Allah, maka dia akan dibenci olehNya, juga akan dibenci oleh seluruh makhlukNya, lebih dari itu, Allah dan malaikat akan melaknatnya.
Diantara hukuman bagi orang yang durhaka kepada kedua orang tua
adalah:
1. Pelakunya menjadi sosok yang dilaknat oleh Allah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.
Artinya: “Allah melaknat orang yang mengubah batas (patok) tanah: Allah melaknat budak yang bertuan kepada selain tuannya; Allah melaknat orang yang menyesatkan jalan orang yang buta; Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) untuk selain Allah; Allah melaknat orang yang melakukan hubungan seksual dengan binatang; Allah melaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya; dan Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth.”
(Musnad Imam Ahmad, Juz 6, hlm. 298, Hadits no. 2765)
2. Rizkinya akan dipersempit. Kalaupun rizkinya dilapangkan, itu merupakan istidraz (tipuan) baginya.
Dengan demikian, barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya,
maka Allah akan melapangkan rizkinya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits:
Artinya:“Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya oleh Allah dan
dilapangkan rizkinya, serta dihindarkan dari kematian yang buruk,
maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah dan membina
hubungan silaturahmi.”
(Al Mustadrak, al-Hakim, Juz 17, hlm 128, hadits no. 7389)
3. Ajalnya tidak akan ditangguhkan
4. Pelakunya berpeluang meninggal dunia dalam keadaan yang buruk, ia
berpeluang meninggal dalam keadaan buruk, seperti mati dalam keadaan
maksiat.
5. Amalnya tidak diterima meskipun amal itu baik Itu disebabkan dia telah durhaka kepada kedua orang tuanya, diriwayatkan dari Abu Umamah al Bahili, bahwa Rasulullah saw bersabda:
Artinya: “Ada tiga (kelompok) yang Allah tidak akan menerima sharf dan
tidak pula adl Nya, yaitu orang yang durhaka (kepada kedua orang
tuanya); orang yang sering menyebut-nyebut apa yang telah dia
berikan; dan orang yang mendustakan taqdir.”
(al-Ibaanah al-Kubraq, Ibnu Bathah, Juz 4, hlm 60 hadits no. 153)

D. sebab-sebab anak durhaka dan cara mengatasinya
Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang durhaka kepada kedua orang tuanya, diantaranya:
1. Tidak mengetahui keagungan orang tua dan tidak mengetahui hukuman
atas kedurhakaan itu, baik hukuman di dunia maupun di akhirat kelak.
2. Adanya sikap orang tua yang lebih mengutamakan atau mementingkan
sebagian anak atas sebagian lainnya atau dalam kata lain adanya ketidak
adilan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya.
3. Kelalaian dari orang tua dalam menafkahi anak-anaknya semasa kecil.
4. Berteman dengan orang-orang yang buruk budi pekertinya yang mendorong sahabatnya menentang orang tuanya.
Diriwayatkan dari Abu Hurariroh r.a., dia berkata : “Rasulullah saw
bersabda:
Artinya : “(Akhlak) seseorang itu tergantung pada akhlak sahabat karibnya. Karena itu, hendaklah salah seorang diantara kalian
memperhatikan siapa yang digauli (nya).” (Musnad Imam Ahmad, Juz 16. hlm: 226, no Hadits 7685)
Itulah factor-faktor yang menyebabkan anak durhaka kepada orang tuanya. Namun jika ditelaah lebih lanjut, faktor utamanya adalah kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Kesalahan tersebut bisa berupa kesalahan dalam menerapkan cara yang digunakan; seperti terlalu banyak aturan atau sikap orangtua yang terlalu keras dan kasar terhadap anak.
Sikap lemah lembut dan kasih sayang adalah modal utama dan kunci keberhasilan orangtua dalam mendidik anak. Inilah cara yang diajarkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW dalam mendidik umatnya. Allah berfirman:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159).
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Kelembutan adalah hiasan bagi segala sesuatu.” (HR. Muslim, bab Al-Birru).
Sikap lemah lembut dalam mendidik anak merupakan faktor yang sangat mendukung keberhasilan pendidikan anak. Orangtua selayaknya memahami bahwa anaknya bukanlah malaikat yang tidak pernah berbuat salah, dan bukan pula setan yang tidak memiliki sisi kebaikan.
Dalam bukunya Nasha`ih li Al-Abaa` Qabla ‘Uquq Al-Abnaa`, Prof. Sa’ad Karim menjelaskan, ketika seorang anak melakukan kesalahan, tidak selayaknya orangtua langsung memberikan hukuman yang bert. Yang harus dilakukan oleh orangtua adalah memberikan nasehat dan petunjuk, menjelaskan kesalahan sang anak dengan cara yang bijak, sambil memberikan keterangan tentang perilaku dan sikap yang benar. Setelah itu, memberikan bimbingan dan arahan.
Salah seorang ulama yang merupakan pakar sosiologi, Ibnu Khaldun, pernah mengingatkan bahaya sikap keras dan kasar dalam pendidikan. Dia menjelaskan bahwa pendidikan yang didasari oleh sikap kasar dan keras seringkali menghasilkan manusia-manusia suka berbohong, munafik, dan memiliki kepribadian rapuh.
Mengomentari hal yang sama, Prof. Jamal Al-Kasyif menyatakan, “Seorang anak yang tumbuh dalam situasi dan kondisi yang keras dan kasar akan mengalami perkembangan mental tidak sehat. Pengaruh dan dampak buruknya bervariasi, bisa cepat bisa juga lambat.”
Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kepercayaan, cinta, dan saling pengertian, jarang sekali bersikap khianat atau melanggar janji. Dia akan menjadikan kepercayaan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Dia akan tumbuh menjadi manusia yang mengusung kepercayaan diri, berterus terang, dan jujur.
E. Kisah nyata tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Kisah ini terjadi pada zaman Rasulullah saw. Pada suatu hari Rasulullah saw mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau membimbingnya agar membaca kalimat tauhid, Lâilâha illallâh, tapi pemuda itu lisannya terkunci.
Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang berada di dekat kepala sang pemuda yang sedang sakratul maut: Apakah pemuda ini masih punya ibu?
Sang ibu menjawab: Ya, saya ibunya, ya Rasulullah.
Rasulullah saw bertanya lagi: Apakah Anda murka padanya?
Sang ibu menjawab: Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 tahun.
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!  
Sang ibu berkata: Saya ridha padanya karena ridhamu padanya.
Kemudian Rasulullah saw membimbing kembali kalimat tauhid, yaitu Lâilâha illallâh.
Kini sang pemuda dapat mengucapkan kalimat Lâilâha illallâh.
Rasulullah saw bertanya pemuda itu: Apa yang kamu lihat tadi?
Sang pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam, pandangannya menakutkan, pakaiannya kotor, baunya busuk, ia mendekatiku sehingga membuatku marah padanya.
Lalu Nabi saw membimbinnya untuk mengucapkan doa:
يَا مَنْ يَقْبَلُ الْيَسِيْرَ وَيَعْفُو عَنِ الْكَثِيْرِ، اِقْبَلْ مِنِّى الْيَسِيْرَ وَاعْفُ عَنِّي الْكَثِيْرَ، اِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” 1)
Sang pemuda kini dapat mengucapkannya. Nabi saw bertanya lagi: Sekarang lihatlah, apa yang kamu lihat? Sang pemuda menjawab: sekarang aku melihat seorang laki-laki yang berwajah putih, indah wajahnya, harum dan bagus pakaiannya, ia mendekatiku, dan aku melihat orang yang berwajah hitam itu telah berpaling dariku. Nabi saw bersabda: Perhatikan lagi. Sang pemuda pun memperhatikannya. Kemudian beliau bertanya: sekarang apa yang kamu lihat?
Sang pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, aku melihat orang yang berwajah putih, dan cahayanya meliputi keadaanku. (Bihârul Anwâr 75: 456).
1). Doa ini dikenal sebagai doa Yasîr, doa untuk memperoleh kemudahan saat sakaratul maut.
BAB III
PENUTUP
            Dari uraian diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwasanya arti durhaka menurut syara’ adalah setiap perbuatan atau ucapan anak yang menyakiti kedua orang tuanya.
Allah Swt, berfirman:
وقضى ربك الاّ تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحساناً إما يبلغنّ عندك الكبر أحدهما او كلاهم فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريماً(الإسراء:23)
Artinya:dan Tuhanmu menghendaki supaya kamu tidak menyembah keculai kepada-Nya dan berbakti kepada kedua orang tua, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya, sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaannmu, maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia.( QS. Al-Isro [17]: 23)
          Jadi durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar. Dan semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut. Amie… ya robbal ‘alamien..



Daftar Rujukan


Amal-amal manusia itu diperlihatkan kepada Allah pada setiap hari Kamis dan
amal orang yang durhaka itu tidak akan diterima oleh Allah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairoh, bahwa Rasulullah bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal anak cucu Adam itu diperlihatkan
(kepada Allah pada setiap hari kamis malam Jumat). Dan tidak
akan diterima amal orang yang memutus hubungan silaturahmi.”
(Musnad Imam Ahmad, Juz 20, hlm 427, hadits no. 9883)
6. Anak cucunya akan durhaka kepadanya
Diriwayatkan oleh Jabir, dia berkata: “Rasulullah saw bersabda:
Artinya: “Berbaktilah kalian kepada bapak-bapak kalian, niscaya anak-anak
kalian akan berbakti kepada kalian, peliharalan kesucian diri kalian
dari istri-istri orang, niscaya istri-istri kalian akan memelihara
kesucian dirinya.”
(al-Mu’jam al Kabiir, ath-Thabrani, juz 11, hlm. 173, hadits no 252)
Dengan demikian, orang yang durhaka kepada kedua orang tua akan
mendapatkan hukuman yang lebih cepat. Dia akan mendapatkan hukuman
ketika masih berada di alam dunia. Misalnya yang terjadi pada Malin
Kundang. Dia dikutuk ibunya menjadi batu karena Malin tidak mau mengakui
ibunya yang telah melahirkannya. Contoh lain yang terjadi pada seorang anak
di wilayat Timur dia dikutuk menjadi ikan pari, ada juga yang dikutuk
menjadi tikus, menjadi manusia bertubuh macan dan lain sebagainya.
Semuanya merupakan kekuasaan Allah Swt.
7
Diriwayat dari Rasulullah, beliau bersabda:
Artinya: “Setiap dosa itu akan ditangguhnya (hukumannya) oleh Allah sesuai
dengan kehendakNya hingga hari kiamat, kecuali (dosa karena)
durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Swt akan
menyegerakan (hukuman) atas dosa itu bagi pelakunya ketika dia
masih hidup, sebelum dia meninggal dunia.”
(al-Mustadrak, al-Hakim, Juz 17 hlm. 103, hadits no. 7372)
Adapun hukuman di akhirat nani bagi orang yang durhaka, lebih berat
daripada hukuman di dunia. Diantara hukuman tersebut ialah bahwa kelak
pada hari kiamat Allah tidak akan melihatnya.
Diriwayat dari ‘Abdulloh bin Umar, dari Rasulullah saw, beliau
bersabda:
Artinya: “Ada tiga (kelompok) yang Allah tidak akan melihat mereka pada
hari kiamat kelak, yaitu : orang yang durhaka kepada orang tuanya;
orang yang kecanduan khamar; dan orang yang sering menyebut-
nyebut apa yang dia berikan.”
(as-Sunan al-Kubro, Baihaqi, Juz 8, hlm. 288)
Diriwayat dari Abu Hurairoh r.a. dia berkata:
“Rasulullah saw bersabda:
Artinya: “Sungguh celaka; sungguh celaka; sungguh celaka; Ditanyakan
kepada Rasulullah saw; “Siapa (yang celaka), wahai Rasulullah?
Beliau menjawab: “Orang yang sempat bertemu dengan orang
tuanya yang sudah tua, baik salah satu maupun kedua-duanya,
8
tetapi dia tidak dapat masuk surga (karena tidak berbakti kepada
kedua orangnya itu).”
(Shahih Muslim, Juz 12, hlm. 237, hadits no 4628)
Diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasululloh saw bersabda:
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (hubungan
silaturahmi dengan keluarganya).
(Shahih Muslim, Juz 12, hlm. 397, hadits no 4628)
Tidak aneh kiranya jika Allah kemudian mensyariatkan kewajiban berbuat
baik kepada kedua orang tua dan berbakti kepadanya setelah perintah
mengesakan dan menyembahNya, dan menjadikan perbuatan baik kepada
keduanya sebagai ketentuan yang mengikat dan berkeharusan Allah Swt,
berfirman:
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya”.(QS. Al-Isro [17]: 23)
Allah Swt berfirman:
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya;
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu –
Bapak (QS. An-Nisa [4]: 36).
Kewajiban anak terhadap orang tuanya diantaranya:
1. Berbakti kepada kedua orang tua
Karena mereka telah melahirkan, menjaga, melindungi,
menyayangi, menafkahi kita dan sebagainya. Apalagi pengorbanan
seorang ibu. Dia mengandung selama 9 bulan dan melahirkan dengan
9
kondisi lemah yang bertambah-tambah pula. Betapa ia harus begadang
untuk kenyamanannya dan bangun tidur setiap saat demi mendengar
tangisannya. Begitu pula ayah dia bekerja membanting tulang untuk
anaknya, demi menjaga pertumbuhannya dan memelihara kesehatan
hidupnya. Oleh sebab itu kita harus berbakti kepada kedua orang tua dan
menyayangi mereka.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia berkata “Seorang laki-laki
datang menghadap Rasulullah saw dan berkata : “Wahai Rasulullah,
siapakah orang yang paling berhak aku temani dengan baik? “Beliau
menjawab : ‘ ibumu.” Orang itu bertanya lagi,” Kemudian siapa?” Beliau
jawab: “Ibumu”, orang itu bertanya lagi,” kemudian Siapa” “Beliau
menjawab, “Ibumu”. (untuk keempat kalinya), dan orang itu bertanya lagi,
“kemudian siapa?” Beliau menjawab “Ayahmu”.
2. Meminta izin / restu mereka
3. Berbakti kepada kedua orang tua setelah wafatnya
Bakti kepada kedua orang tua tidak terbatas hanya semasa mereka hidup
melainkan juga ketika mereka telah meninggal dunia. Caranya ialah
dengan meminta ampunan untuk mereka dan mendoakan mereka agar
dikasihi, diampunkan segala dosanya, dimasukkan surga, dan
diselamatkan dari siksa kubur dan neraka Jahannam
Allah Swt berfirman:
Artinya: “Dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (QS. Al-Isro
[17]: 24)
10
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Durhaka kepada kedua orang tua adalah mengabaikan hak-hak mereka,
membangkang terhadap mereka dan melakukan hal yang tidak mereka
sukai, menyakiti mereka, meski hanya dengan sepatah kata atau
pandangan menyakitkan.
2. Durhaka kepada kedua orang adalah suatu hal yang diharamkan dan
termauk dosa besar setelah syirik
3. Hukuman bagi orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya:
a. Pelakunya menjadi sosok yang dilaknat oleh Allah
b. Rizkinya akan dipersempit
c. Ajalnya tidak akan ditangguhkan
d. Pelakunya berpeluang meninggal dunia dalam keadaan yang buruk
e. Amalnya tidak akan diterima meskipun amal itu baik
f. Anak cucunya akan durhaka kepadanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar